oleh

Tingginya Eksploitasi Anak, Anik Maslachah ; Butuh Peran Semua Pihak

-JAWA TIMUR-15 Dilihat

Panjirakyat.net Surabaya – Maraknya prostitusi anak mengundang perhatian banyak pihak. Tak terkecuali Wakil Ketua DPRD Provinsi Jatim Anik Maslachah. Menurut legislator dari Fraksi PKB (F-PKB) tersebut, banyak faktor jadi penyebab ekploitasi anak.

Salah satunya, ketimpangan ekonomi. Kondisi ini masih jadi pemegang faktor utama dalam banyak kasus eksploitasi. Kecenderungan anak dieksploitasi untuk menjadi sumber pendapatan sangat marak terjadi.

BPOM Terbitkan Izin Penggunaan untuk Vaksin COVID-19 Produksi Bio Farma

Presiden Jokowi Tinjau Vaksinasi Massal bagi Pedagang Pasar

“Misal dijadikan pengemis, dijual atau menjadi prostitusi,” terangnya, Rabu (17/2/2021). Selain ekonomi, sisi pendidikan dan tuntutan pola hidup tinggi menjadi faktor utama maraknya kasus ini.

Dari faktor pendidikan saja, kata Anik tidak melulu datang dari sang anak, pendidikan orang tua dan perilaku hedonisme juga berpengaruh besar terhadap pola pikir seorang anak. “Kondisi lingkungan yang tidak sehat, termasuk biasanya orang tua pengemis, dapat dipastikan anaknya dipaksa mengemis,” lanjutnya.

Sekretaris DPW PKB Jatim tersebut, juga menyoroti akses internet yang mudah ternyata tidak diimbangi dengan kebijakan. Hal itu pengaruhnya kuat terhadap gaya hidup seorang anak. Ibarat maksud hati ingin memeluk gunung apalah daya tangan tidak sampai kayaknya menjadi peribahasa yang pas pada maraknya ekploitasi anak.

Gaya hidup tinggi, tapi segi finansial tidak mumpuni, jalan pintas akhirnya ditempuh dengan menjual diri. Pemerintah sebenarnya sudah berupaya mencegah. Dengan melibatkan banyak elemen. Seperti sinergitas antara Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB), Dinas Sosial dengan pemerintah kabupaten/kota dan lain sebagainya. “Untuk ekonomi, melalui dinsos, biro kesos, dalam bentuk keluarga harapan,” katanya.

Kapolri : Pelapor UU ITE Harus Korban Tak Bisa Diwakilkan

16 Daerah Kabupaten Kota se Jatim kini dipimpin Pelaksana Harian

Tapi hal ini masih belum cukup, hal yang juga perlu dilakukan adalah keterlibatan dari semua pihak, kesadaran kolektif dari lingkungan sekitar juga sangat penting demi menghindari kasus seperti ini terjadi lagi.

“Penyuluhan, latihan dan pendidikan. Pemberdayaan ekonomi keluarga dengan pemberian bantuan modal. Pengawasan semua masyarakat, keluarga dan pemerintah lebih intens,” pungkasnya.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terbaru, kasus ekplotasi anak sangat tinggi. Pada 2020 saja tercatat ada 6.519 kasus. Khusus untuk trafficking dan eksploitasi tercatat 149 kasus.(pr/ttk)