oleh

Susu Kental Manis tak Cocok untuk Anak-anak, Jurus Arumi Bachsin Cegah Stunting

-KESEHATAN-39 Dilihat

panjirakyat.net Surabaya – Susu kental manis (SKM) diyakini tak cocok untuk anak-anak. Sebab SKM dinilai tidak mengandung nilai gizi yang cukup sebagai susu. Apalagi jika dikaitkan dengan pencegahan stunting, maka intervensi SKM dinilai tak tepat.


Selebriti yang juga Ketua TP PKK Jawa Timur Arumi Bachsin mengungkapkan penanganan stunting di wilayahnya dengan mengedukasi para ibu untuk memenuhi nilai gizi bayi sejak dalam kandungan. Sebab kehidupan bayi dimulai sejak usia nol dalam perut ibu hingga seribu hari pertama.


“Memang harus saat dalam kandungan namun itu saja sudah telat, moment yang paling tepat adalah ketika remaja, sehingga mereka siap untuk menjadi ibu,” papar Arumi dalam webinar baru-baru ini bersama PP Muslimat NU.

Gempa Selatan Malang M 6,1 Berdekatan Pusat Gempa Merusak Jawa Timur Masa Lalu

Gempa di Jatim, Presiden: Segera Lakukan Upaya Tanggap Darurat

Istri Wagub Jatim tersebut juga mengakui, saat ini penyumbang terbesar stunting adalah tingginya pernikahan di usia anak. Penyebabnya adalah kemiskinan, putus sekolah, kurangnya pendidikan baik formal maupun non formal. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya edukasi tentang gizi disampaikan secara gamblang, salah satunya adalah edukasi mengenai konsumsi kental manis yang masih jamak diberikan masyarakat sebagai minuman untuk anak-anak.


“Terkait kental manis menjadi salah satu faktor penyebab stunting, kita harus ke ldepankan fakta dan disampaikan dengan gamblang. Orang tua dalam hal ini ayah dan ibu harus bekerja sama menjaga anak dan mendidik orang tua (nenek) untuk tidak memberi kental manis kepada anak,” jelas Arumi.

Dalam acara yang sama, Dokter Spesialis Gizi Klinis Universitas Indonesia Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK(K) mengatakan karakteristik perilaku konsumsi masyarakat Indonesia adalah senang makan manis, asin dan mengandung lemak. Asupan lemak rata-rata orang Indonesia memang hanya 32 persen, tidak lebih tinggi dibanding negara lain. Namun asupan lemak jenuhnya, 2 kali lipat dari negara lain dan ini adalah sumber dari segala penyakit. Pada remaja, perilaku konsumsi yang tidak seimbang tersebut terlihat lebih jelas.


“Kita perlu fokus pada remaja karena saat ketidak tepatan nutrisi akan mempengaruhi status gizi dan kesehatan generasi yang akan datang. ila remaja melakukan diet yang salah akan berakibat gangguan pertumbuhan.
Dan bila dietnya salah maka akan menjadi remaja yang pendek dan akan melahirkan bayi-bayi yang stunting. Ditambah lagi remaja sekarang terbiasa mengkonsumsi fast food dan junk food yang kandungan gula, garam dan lemaknya tinggi.” Jelas dr Fiastuti.


Karena itu, guna mencegah stunting, pemenuhan gizi remaja perlu diperhatikan. “Harusnya nutrisi remaja yang mengandung nutrian yang dibutuhkan bagi pertumbuhannya seperti protein yang tinggi, jangan banyak gula. Dan saya tidak setuju jika anak diberi kental manis karena sama sekali tidak ada gizinya isinya hanya gula,” tegas Fiastuti.


Plt. Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI Kartini Rustandi memaparkan, 1 dari 4 remaja mengalami stunting, 1 dari 7 remaja mengalami kelebihan berat badan serta 50 persen remaja mengkonsumsi makanan manis lebih dai 1 kali sehari. “Ini menjadi masalah mengingat remaja adalah investasi negara, calon pemimpin. Karena itu Kementerian Kesehatan mengapresiasi edukasi-edukasi yang dilakukan oleh masyarakat,” jelas Kartini Rustandi.

Sebelumnya YAICI bersama PP Muslimat NU telah melakukan penelitian mengenai konsumsi kental manis pada balita di beberapa wilayah di Indonesia. Penelitian dilakukan pada 2020 di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT dan Maluku. Dari penelitian ditemukan 28,96 persen dari total responden mengatakan kental manis adalah susu pertumbuhan, dan sebanyak 16,97 persen ibu memberikan kental manis untuk anak setiap hari.


Dari hasil penelitian juga ditemukan sumber kesalahan persepsi ibu, dimana sebanyak 48 persen ibu mengakui mengetahui kental manis sebagai minuman untuk anak adalah dari media, baik TV, majalah/ koran dan juga sosial media dan 16,5 persen mengatakan informasi tersebut didapat dari tenaga kesehatan.


Temuan menarik lainnya adalah, kategori usia yang paling banyak mengkonsumsi kental manis adalah usia 3-4 tahun sebanyak 26,1 persen menyusul anak usia 2-3 tahun sebanyak 23,9 persen. Sementara konsumsi kental manis oleh anak usia 1-2 tahun sebanyak 9,5 persen, usia 4-5 tahun sebanyak 15,8 persen dan 6,9 perseb anak usia 5 tahun mengkonsumsi kental manis sebagai minuman sehari-hari. Dilihat dari kecukupan gizi, 13,4 persen anak yang mengkonsumsi kental manis mengalami gizi buruk, 26,7 persen berada pada kategori gizi kurang dan 35,2 persen adalah anak dengan gizi lebih.(pr/Dea)