oleh

Lembaga Pengembangan Pertanian NU Sumenep Tolak Impor Beras

-DAERAH-25 Dilihat

panjirakyat.net Sumenep – Pengurus Cabang Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (PC LPPNU) Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur menolak rencana pemerintah mengimpor 1 juta ton beras.

Padahal berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) Jatim pada kuartal ketiga 2020, ada peningkatan produksi padi di Jatim sebesar 0,44 juta ton, dari 9,58 juta ton pada tahun 2019 menjadi 10,02 juta ton pada 2020.


Surplus ini menempatkan Jatim sebagai produsen padi terbesar di Indonesia tahun 2020.

Kiai di Jatim Dukung Penggunaan Vaksin AstraZeneca

Gaungkan Disiplin Prokes, Polresta Tangerang dan 3 Pilar Bagikan 28.439 Masker

Ketua LPP NU Sumenep H. Alvin Niam menolak rencana pemerintah soal rencana impor beras sebab, semestinya pemerintah lebih memikirkan nasib petani.

“Ketimbang mengambil keuntungan dari impor yang hanya diambil keuntungam segelintir pihak tertentu,” kata Alvin kepada media.


Menurutnya, semestinya pemerintah lebih mendorong para petani untuk memperbaiki pola pertanian. Seperti, memberi edukasi bagaimana bertani yang baik mulai proses penanaman hingga musim panen.

“memperbaiki pola pertanian yang sehat dan tidak selalu berketergantungan Kepada pihak apapun dengan cara bertani Yang kreatif dan inovatif,” ujarnya.

Secara kelembagaan LPP NU Sumenep menolak rencana tersebut sebab, rata-rat warga NU di Kabupaten berprofesi sebagai petani. ” Yang jelas kita menolak kebijakan tersebut. Ini demi kemaslahatan umat,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi buka-bukaan soal alasan pemerintah mendatangkan beras impor atau kebijakan impor beras. Penyebabnya, penyerapan beras dari Perum Bulog sangat memprihatinkan.


Ia memaparkan, bila kinerja pengadaan Bulog di dalam masa panen berjalan baik, maka Kementerian Perdagangan tidak akan mencetuskan rencana impor beras.

“Jadi Anda bisa tahu bagaimana rasanya hati saya. Kalau pengadaan Bulog di dalam masa panen ini berjalan dengan baik, saya tidak masalah kita tidak impor selama stok Bulog mencapai satu juta,” tegas Lutfi. (pr/rus)