oleh

Komisi E DPRD Jatim Harap PPDB SMA/SMK Tahun 2022/2023 Tidak Polemik Lagi

-JAWA TIMUR-132 Dilihat

Panjirakyat.net Kediri – Komisi E DPRD Jatim berharap pada penerimaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK tahun ajaran 2022/2023, tidak menimbulkan polemik lagi yang ujung ujungnya merugikan anak bangsa di Jatim yang akan melanjutkan sekolah kejenjang SMA dan SMK.

Hal ini disampaikan ketua Komisi E DPRD Jatim, Wara Sundari Renny Pramana, disela hearing Komisi E DPRD Jatim dengan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kediri, Ramli dan beberapa sekolah SMA/SMK Negeri Kota Kabupaten Kediri, terkait persiapan PPDB 2022/2023 di Jatim di pendopo Kediri, Jumat (13/05/22).

Menurut Wara Sundari Renny Pramana, juga perlu ada penerapan khusus untuk pelaksanaan PPDB di Kota Kota besar di Jatim. “Kita sudah mengutarakan hal ini ke Kepala Dinas Pendidikan Jatim agar ada kebijakan itu. Namun sejauh ini masih belum ada respon,” ujarnya.

Kata politisi asal Fraksi PDI Perjuangan ini, penerapan PPDB aturan khusus cukup diperlukan untuk kota kota besar. Sebab bila zonasi murni ditetapkan maka akan sangat merugikan siswa yang ada. Akan banyak siswa yang tidak mendapatkan kuota. “Jarak sekolah dalam zonasi harus ada kebijakan tambahan tidak murni zonasi jarak dengan sekolah. Karena jumlah sekolah yang terbatas dan sebarannya juga tidak merata dikota kota besar,” ujarnya.

“Saya berharap bu Gubernur mendengarkan hal ini, sehingga ada kebijakan khusus untuk PPDB di kota – kota. Yang ini selalu menimbulkan permasalahan setiap PPDB dilaksanakan,” lanjutnya.

Mendikbud Minta Masyarakat Manfaatkan Beasiswa Indonesia Maju

Pemeliharaan Tanpa Padam, PLN Giatkan Borderless PDKB dan Harbas

Wanita yang juga Bendahara PDI Perjuangan Jatim, ini juga berharap dalam PPDB ini masyarakat yang tidak mampu juga pro aktif guna bisa menyekolahkan anaknya melalui jalur afirmasi. Dan pihak sekolah juga harus bisa menerima mereka. “Jadi saya berharap mereka yang tidak mampu juga ikut jemput bola mendaftarkan anak mereka. Karena kebanyakan mereka warga yang tidak mampu menunggu dulu ikut zonasi ketika tidak keterima baru mengurus afirmasi. Ini yang harusnya tidak terjadi,” pungkasnya.

Senada, Hadi Dediansyah anggota Komisi E mengatakan sistem zonasi di kota-kota besar sangat berpengaruh, sehingga perlu memperhatikan fleksibilitas terkait dengan prestasi anak. “Anak yang memliki prestasi meskipun melalui jalur zonasi harus menjadi prioritas. Anak-anak yang prestasi butuh tempat , sehingga jangan sampai anak yang berprestasi di patahkan karena persoalan zonasi,”kata cak dedi sapaan akrab Hadi Dediansyah.

Politisi asal Partai Gerindra ini berharap untuk sistem zonasi di kota besar termasuk di Kediri harus memprioritaskan bagi anak-anak yang memiliki prestasi. “Saya minta Dinas pendidikan ( Dindik) Jatim merespon terhadap aktualisasi yang terjadi dilapangan dan harus menyesuaikan serta jangan kaku terhadap sistem zonasi ini . Jangan sampai anak yang cerdas terpatahkan dengan sistem Zonasi ,” pungkasnya.

Sementara itu dr Benyamin Kristianto anggota komisi E lainnya menegaskan, kebijakan khusus diberikan karena saat ini pemerataaan sekolah belum ada di kota kota besar di Jatim. “Zonasi murni ini, bisa jalan kalau keberadaan sekolah sama dengan Puskesmas yang selalu ada di masing masing kecamatan. Kenyataannya sekolah belum merata. Dikota besar saty sekoah bisa lebih dari dia kecamatan. Ini khan ndak fair zonasi penuh di terapkan,” ujarnya.

Zonasi yang sebetulnya bagus untuk pemerataan kata politisi Gerindra ini, akhirnya menjadi tidak efektif dan malah menimbulkan persoalan persoalan baru. Banyak orang tua yang memindahkan anaknya ke KK orang lain untuk mendekatkan zonasi.

“Seperti pengakuan salah satu kepala sekolah tadi. Dalam satu KK ada 10 siswa ini khan tidak wajar. Mereka melakukan itu agar anak anak mereka bisa diterima di sekolah negri karena zonasi murni. Ini khan keterlaluan,” terangnya.

“Sehingga penting ada kebijakan khusus ssebelum ada pemerataan sekolah. Sehingga tidak ada lagi istilah menganak tirikan siswa karena zonaainya tidak masuk,” lanjutnya.

Dalam haring yang berlangsung di Pendopo Kili Suci Ruang Gembul Bujan Kabupaten Kediri ini juga dikuti anggota Komisi E DPRD lainnya, Umi Zahro, Aida Fitri dan Siti Mukiyarti (PKB) serta Suwandi Firdaus (Nasdem).

Bahkan dalam hearing tersebut Komisi E sepakat dalam waktu dekat akan kembali memanggil kepala Dinas Pendidikan Jatim guna membicarakan persoalan PPDB di Jatim. Jangan sampai ada gejolak lagi terkait PPDB khususnya di kota kota besar yang ada di Jatim. (pr/Dea)