oleh

26,9 Persen Anak di Jatim Mengalami Stunting

-JAWA TIMUR-37 Dilihat
panjirakyat.net Surabaya – Provinsi Jawa Timur (Jatim) masih menghadapi masalah stunting yang berimplikasi terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Diungkapkan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur Andriyanto, prevalensi stunting di Jatim sebesar 26,9 persen.
“Ini menunjukkan masalah kesehatan yang cukup serius. Stunting merupakan tragedi yang tersembunyi,” tukasnya kepada Basra, Senin (25/1).
Lebih lanjut Andriyanto mengungkapkan, stunting terjadi karena dampak kekurangan gizi kronis selama 1.000 hari pertama kehidupan. Kerusakan yang terjadi mengakibatkan perkembangan anak yang irreversible (tidak bisa diubah), anak tersebut tidak akan pernah mempelajari atau mendapatkan sebanyak yang dia bisa.
Baca juga :
“Studi-studi saat ini menunjukkan bahwa anak stunting sangat berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk, lama pendidikan yang turun, dan pendapatan yang rendah sebagai orang dewasa. Artinya anak stunting menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk tumbuh menjadi dewasa yang kurang pendidikan, kurang sehat, dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular,” jelasnya.
Oleh karena itu, kata Andriyanto, anak stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang diterima secara luas, yang selanjutnya menurunkan kemampuan produktif masyarakat di masa yang akan datang.
Permasalahan stunting di Jatim, lanjutnya, diikuti dengan masih tingginya angka kematian ibu dan bayi. Sehingga seluruh sektor dan program harus melakukan pencegahan dan penanganan secara komprehensif dan konvergen.
“Intervensi pencegahan dan penanganan stunting adalah fokus di 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak kehamilan sampai anak berusia 2 tahun, dimana pada periode ini 85 persen otak manusia terbentuk. Sehingga menjadikan remaja atau calon pengantin sehat dan tidak anemia merupakan langkah yang strategis untuk menyiapkan kehamilan yang sehat,” paparnya lagi.
Berangkat dari alasan tersebut, kata Andriyanto, maka peringatan Hari Gizi Nasional yang jatuh pada hari ini, Senin (25)1), pun mengangkat tema ‘Remaja Sehat, Bebas Anemia’.
Diungkapkan Andriyanto, sekitar 12 persen remaja laki-laki dan 23 persen remaja perempuan di Indonesia mengalami anemia, yang sebagian besar diakibatkan kekurangan zat besi.
“Itu data secara nasional ya, tapi di Jawa Timur tidak berbeda jauh. Setahu saya lebih tinggi sedikit dari nasional,” imbuhnya.
Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja, dan produktivitas.
Baca juga :
“Jadi membuat remaja dan calon pengantin tidak anemia menjadi langkah strategis untuk menyiapkan kehamilan yang sehat, karena akan memberikan asupan oksigen yang cukup kepada janinnya. Kehamilan yang sehat akan menurunkan kejadian angka kematian ibu dan bayi, serta tentu saja stunting,” jelasnya.
Adapun peran dinas pendidikan dan tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan gizi pada remaja putri khususnya, kata dia, diharapkan dapat menambah pengetahuan remaja putri tentang gizi dan anemia. Dengan demikian remaja putri diharapkan dapat mengubah pola makan sehingga asupan gizi menjadi lebih baik.
“Pemikiran yang terbuka dan karakteristik remaja yang masih dalam tahap belajar secara tidak langsung akan memengaruhi kebiasaan mereka. Dengan pendidikan gizi, remaja akan lebih mengenal kebiasaan baik dalam hal pemenuhan kebutuhan asupan gizi, sehingga dapat mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.(pr/dea)